Showing posts with label periodonsia. Show all posts
Showing posts with label periodonsia. Show all posts

Tuesday, October 19, 2010

OPERKULEKTOMI (PERICORONAL FLAP)

Alat dan Bahan :
1. Alat dasar : kaca mulut, sonde, pinset KG, dan eskavator
2. Pinset chirurgis
3. Glass plate
4. Akuades steril dan spuit
5. Cotton roll dan tempat
6. Alkohol 70% dan tempat
7. Betadine antiseptik
8. Neir beiken
9. Semen spatel
10. Tampon dan tempat
11. Cotton pelet dan tempat
12. Periodontal probe
13. Periodontal pack (dressing)
14. Gunting
15. Scalpel



Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan operkulum secara bedah.
Perawatan perikororonitis tergantung pada derajat keparahan inflamasinya. Komplikasi sistemik yang ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi yang terlibat nantinya akan dicabut atau dipertahankan. Selain itu hal yang perlu diperhatikan dan adalah faktor usia dan kapan dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi mengenai hal tersebut karena jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir memang waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu.
Kondisi akut merupakan kontraindikasi dilakukannya operkulektomi, namun tindakan emergensi dapat dilakukan hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk dapat melakukan operkulektomi


Teknik :
1. Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yangterlibat serta komplikasi toksisitas sistemik yang ditimbulkan.

2. Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada permukaan operkulum dengan aliran air hangat atau aquades steril.


3. Usap dengan antiseptik.

4. Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan menggunakan scaler dan debris di bawah operkulum dibersihkan.

5. Irigasi dengan air hangat/aquades steril.
Catatan :
Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat diberikan anastesi topikal. Pada kondisi akut juga tidak boleh dilakukan kuretase maupun surgikal.
Bila operkulum membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna mendapatkan drainase. Bila perlu pasang drain dan pasien diminya datang kembali setelah 24 jam guna melepas/mengganti drainnya.
Jika kondisi akut, maka perawatan selanjutnya diberikan di kunjungan kedua. Pasien diinstruksikan agar :
a. Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam
b. Banyak istirahat
c. Makan yang banyak dan bergizi
d. Menjaga kebersihan mulutnya
Pemberian antibiotik dapat dilakukan jika diperlukan (bila ada gejala-gejala konstisional dan kemungkinan adanya penyebaran infeksi). Demikian pula analgesik dapat diberikan kepada pasien jika diperlukan.
Kondisi pasien kemudian dievaluasi di kunjungan berikutnya dan dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya bila kondisi pasien telah membaik dan keadaan akut telah reda.

6. Cek pocket periodontal yang ada untuk mengetahui apakah tipe pocket (false pocket atau true pocket). Lakukan probing debt pada semua sisi.

7. Anastesi daerah yang ingin dilakukan operkulektomi. Anastesi tidak perlu mencapai sampai tulang, hanya sampai periosteal.

8. Lakukan operkulektomi (eksisi periodontal flap) dengan memotong bagian distal M3.
Jaringan di bagian distal M3 (retromolar pad) perlu dipotong untuk menghindari terjadinya kekambuhan perikoronitis. Ambil seadekuat mungkin. Penjahitan dilakukan jika trauma terlalu besar atau bleeding terlalu banyak.
Teknik operkulektomi yang lain dapat dilakukan secara partial thickness mucogingival flap pada daerah lingual. Untuk daerah bukal juga dibuat insisi partial thickness flap dengan meninggalkan selapis jaringan. Partial thickness flap adalah flap yang dibuat dengan jalan menyingkap hanya sebagian ketebalan jaringan lunak yakni epitel dan selapis jaringan ikat, tulang masih ditutupi jaringan ikat termasuk periosteum. Indikasi untuk dilakukannya teknik ini adalah flap yang akan ditempatkan ke arah apikal atau operator tidak bermaksud membuka tulang. Setelah dilakukan flap dapat dilakukan eksisi seluruh jaringan retromolar pad kemudian menyatukan flap bukal dan lingual dengan melakukan penjahitan.

9. Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril.

10. Keringkan agar periodontal pack yang akan diaplikasikan tidak mudah lepas.

11. Aplikasikan periodontal pack.
Penggunaan periodontal pack bukan medikasi, namun menutupi luka (dressing) agar proses penyembuhan tidak terganggu. Dressing periodontal dulu mengandung zinc-oxide eugenol, namun sekarang kurang disukai karena dapat mengiritasi. Karena alasan itu, sekarang ini digunakan bahan dressing periodontal bebas eugenol. Dalam mengaplikasikannya harus hati-hati sehingga dapat menutupi daerah luka dan mengisi seluruh ruang interdental karena di situlah letak retensinya. Pada daerah apikal, periodontal pack diaplikasikan jangan melebihi batas epitel bergerak dan epitel tak bergerak dan mengikuti kontur. Pada daerah koronal jangan sampai mengganggu oklusi. Dengan demikian, retensi periodontal pack menjadi baik.

12. Instuksikan pada pasien agar datang kembali pada kunjungan berikutnya (kalau tidak ada keluhan, satu minggu kemudian)

13. Pada kunjungan berikutnya, pack dibuka dan dievaluasi keadaannya.



Sumber :
http://toothportal.co.uk/page_attachments/0000/0267/Pericoronitis.jpg
http://www.smilesonunionsquare.com/initial_visit/images/initial_09_4.jpg
Manson, J.D dan B.M Eley. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Jakarta: Hipokrates
Tim Penyusun Periodonsia. Buku Praktikum Periodonsia FKG Unej

Friday, July 24, 2009

KLASIFIKASI PENYAKIT PERIODONTAL

Penyakit periodantal merupakan penyakit inflamasi pada jaringan penyangga gigi yang disebabkan mikroorganisme dan menimbulkan destruktif yang progresif pada ligamen periodontal dan tulang alveolar, menimbulkan poket, resesi, atau kedua-duanya.

AAP (American Academy of Periodontology) International for Classification of Periodontal Workshop Disease 1999 memberikan klasifikasi penyakit periodontal, sebagai berikut :

Peyakit Gingiva


  1. Penyakit gingiva yang diinduksi plak

    • Gingivitis yang berhubungan hanya dengan dental plak

    • Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh keadaan sistemik

    • Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh medikasi

    • Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh malnutrisi

  2. Penyakit gingiva yang diinduksi non-plak

    • Penyakit gingiva disebabkan oleh spesifik bakteri

    • Penyakit gingiva disebabkan oleh virus

    • Penyakit gingiva disebabkan oleh jamur

    • Manifestasi pada gingiva oleh keadaan sistemik

    • Traumatik lesi

    • Reaksi tubuh terhadap benda asing

    • Selain itu tidak terspesifikasi (idiopatik)

Peyakit Periodontal


  1. Periodontisis kronis

    • Localized

    • Generalized

  2. Periodontitis Agresif

    • Localized

    • Generalized

  3. Periodontitis sebagai manifestasi penyakit sistemik

  4. Necrotizing periodontal

    • Necrotizing ulserative gingivitis (NUG)

    • Necrotizing ulserative periodontitis (NUP)

  5. Abses periodonsium

    • Abses gingiva

    • Abses periodontal

    • Abses perikoronal

Wednesday, June 17, 2009

Download e-book Kedokteran Gigi Periodontal

Dapat dari googling ^^

Clinical Periodontology and Implant Dentistry oleh Jan Lindhe


Download Zip
Klik di sini

Download Rar
Klik di sini
atau
Klik di sini

Carranza Clinical Periodontology 9th Edition


Klik di sini (Part 1)
Klik di sini (Part 2)

Monday, April 6, 2009

Koronoplasti

(Tulisan ini berupa teori yang didapat selama kuliah dan tutorial blog stomatognatik. Sedangkan yang berupa tindakan langsung belum dipelajari dan belum dilakukan. XD)

Koronoplasti merupakan suatu upaya untuk mencapai oklusi yang optimal, yang sering juga disebut dengan occlusal adjustment (penyesuaian oklusal). Interferensi tonjol (cusp gigi yang tidak benar) dapat mengganggu gerak menutup atu mengunyah mandibula, dan mengganggu kontak bilateral pada sumbu retrusi.

Gangguan yang memerlukkan tindakan koronoplasti adalah gangguan kontak oklusi yang terdapat kontak prematur atau kontak berlebih, yaitu pada kondisi oklusi :
1. Retruded contact position (RCP)
Pada saat melakukan gerakan menutup mulut.
2. Intercuspal Contact Position (ICP)
Pada saat melakukan gerakan penelanan.
3. Protrusive contact position (PCP)
Pada saat menggerakan rahang bawah ke depan.
4. Working side contact position
Pada saat seseorang menggerakkan rahang bawah ke lateral (menjauhi garis tengah tubuh).
5. Non-working side contact position (Balancing side)
Pada saat seseorang menggerakkan rahang bawah ke lateral (mendekati garis tengah tubuh).
Selain itu juga dapat disebabkan oleh karena traumatik oklusi karena restorasi (overhanging restoration = melebihi oklusal asli), misalnya oleh karena tumpatan yang berlebih atau penggunaan gigi tiruan.

Penyesuaian oklusal ini dapat didefenisikan sebagai pengasahan daerah oklusal tertentu yang terencana guna memulihkan stabilitas mandibula ketika menutup dan guna menghilangkan interferensi dari dan ke Intercuspal Position (IP) dalam gerakan fungsi dan parafungsi. (Thomson, 2007: 203).


Tindakan koronoplasti ini dilakukan menggunakan articulating paper saat melakukan pemeriksaan protrusive movement dan lateral movement (terdiri dari working side dan balancing side). Articulating paper sendiri digigit selama pergerakan mandibula tersebut.








Setelang dilakukan tindakan, spot yang terlalu tebal disebut dengan kontak prematur. Dan terdapat aturan Schuyler (1935) yang merupakan bimbingan pertama bagi prosedur pengasahan, yaitu : Jika tonjol tidak membuat kontak prematur pada gerakan protrusif dan lateral, asalah fossa. Dan jika tonjol membuat kontak pada gerakan tersebut, asalah tonjol.
Selanjutnya, dicari pula balance centric occlusion (centric stop). Centric stop ini tidak boleh diasah lagi pada saat penyesuaian oklusi dan tanda-tanda prematur kontak bertumpuk dengan centric stop yang boleh dilakukan pengasahan.
Begitu selesai pengasahan, perlu ditambahkan fluor protector agar gigi tidak terasa linu.

Penyesuaian oklusi dengan tindakan koronoplasti juga merupakan tindakan yang kontroversial karena sifatnya yang irreversible (tidak bisa kembali). Tetapi prosedur ini telah diakui untuk perawatan disfungsi mandibula yang aktivitas pergeseran mandibulanya telah terdiagnosa.



Daftar Pustaka :
Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta: EGC
(Handout kuliah drg. Gunadi dan kuliah dari drg. Dewi K. :D)

KESESUAIAN FUNGSI PENGUNYAHAN

Kesesuaian fungsi kunyah merupakan keseimbangan dan keharmonisan antara komponen sistem pengunyahan, baik gigi-geligi, otot, dan sendi temporomandibula (STM) yang semuanya berfungsi dengan baik. Dari sini akan dibahas tentang kesesuaian oklusi gigi-geligi, kesesuaian gerakan TMJ dan otot mastikasi.


Posisi dan oklusi gigi berperan penting dalam mengunyah dan menelan. Oklusi dapat diartikan sebagai kontak antara gigi-geligi secara langsung yang saling berantagonis dari satu rangkaian gerakan mandibula. Didasarkan pada keadaan mandibula, hubungan oklusi dan mandibula dapat dibagi menjadi dua, yaitu posisi non-oklusal dari mandibula dan posisi oklusal mandibula.

1. Posisi Non-Oklusal dari Mandibula (Oklusi Dinamis)
a. Posisi Istirahat (Posisi Postural Endogen)
Posisi ini merupakan posisi ketika otoot yang mengontrol posisi mandibula berada dalam keadaan relaks. Keadaan ini dianggap dikendalikan oleh mekanisme refleks yang dipicu oleh reseptor regangan pada otot mastikasi, khususnya otot temporal. Pada posisi ini terdapat celah beberapa milimeter antara gigi-gigi atas dan bawah yang disebut sebagai free way space (jarak antaroklusal). Variasi sehari-hari dari posisi istirahat terlihat bersama variasi postur kepala (misalnya : kepala didongakkan ke belakang maka jarak antaroklusal meningkat, sedangkan bila kepala dicondongkan ke depan menyebabkan jarak antaroklusal berkurang).
b. Posisi Postural Adaptif
Terjadi pula posisi yang berbeda pada waktu istirahat yang disebut sebagai posisi postural adaptif. Disebut postural adaptif dikarenakan respon tidak sadar terhadap kebutuhan, yaitu :
- Untuk mempertahankan seal oral anterior (menutup jalan udara), yaitu dengan cara palatum lunak menyentuh lidah dan seal oral anterior, yaitu bibir berkontak dan lidah menyentuh gigi-gigi anterior.
- Untuk mendapatkan pernafasan mulut, sehingga diperlukan posisi postural yang berubah dari mandibula, dengan mandibula diturunkan dan jarak antaroklusal yang meningkat berlebihan.

2. Posisi Oklusal Mandibula (Oklusi Statis)
a. Posisi Kontak Retrusi (Relasi Sentrik)
Hubungan mandibula terhadap maksila, yang menunjukkan posisi mandibula terletak 1-2 mm lebih ke belakang dari oklusi sentris (mandibula terletak paling posterior dari maksila) atau kondil terletak paling distal dari fossa glenoid, tetapi masih dimungkinkan adanya pergerakkan dalam arah lateral.
n.b.: di dalam posisi ini sudah terdapat oklusi sentrik
b. Posisi Interkuspal (Oklusi Sentrik)
Posisi kontak maksimal dari gigi-geligi pada waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondil berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukkan oleh panduan yang diberikkan oleh kontak antara gigi pada saat pertama berkontak. Keadaan ini akan mudah berubah bila terdapat gigi supra-posisi ataupun overhanging restoration.


Otot-otot mastikasi dan orofasial serta fungsi sistem saraf yang mengontrolnya berperilaku sesuai dengan pola endogen dan memberi respons terhadap banyak sekali rangsangan untuk menyediakan gerakan yang diperlukkan oleh sistem. Oklusi gigi geligi (O) dapat dinyatakan sebagai produk permukaan oklusal gigi-gigi (T = teeth), aktivitas otot (M = muskuli), dan gerakan yang dimungkinkan oleh adanya sendi mandibula (J = joint), sehingga didapatkan rumus O=TMJ. Tetapi, rumus ini terlalu sederhana mengingat ada suatu aksi yang rumit dan seringkali bersifat refleks.
Semua otot mastikasi dalam keadaan berfungsi (kontraksi maupun relaksasi) pada semua gerakan mandibula. Otot-otot mastikasi terdapat berpasangan di kedua sisi (bilateral) dan setiap otot berjalan ke arah yang berlawanan dan ketinggian yang berbeda sehingga variasi gerakan dapat saja terjadi. Secara garis besar, otot-otot mastikasi ini dibagi menjadi otot-otot penutup rahang dan otot pembuka rahang. Otot-otot penutup rahang yaitu M. Temporalis, M. Masseter, dan M. Pterygoideus Medialis. Sedangkan otot pembuka rahang yaitu M. Pterygoideus Lateralis. Tentang letak origo dan insersionya dapat dibaca pada buku-buku teks anatomi standar. Ketika rahang membuka, otot pembuka rahang akan berkontraksi dan otot-otot penutup rahang akan berelaksasi, demikian sebaliknya bila rahang menutup. Keadaan kontraksi dan relaksasi otot-otot tersebut memperjelas pandangan bahwa semua otot ikut terlibat dalam gerak mandibula.



Daftar Pustaka
Foster, T.D. 1997. Buku Ajar Ortodonsi Edisi 3. Jakarta: EGC
Hamzah, Zahreni drg, dkk. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Blog Stomatognatik. Jember: Unej
Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta: EGC